http://dmcd6hvaqrxz0.cloudfront.net/...1c2502b0473a.jpg

Gairah Penciptaan Seni Patung Baru
Selasa, 14 Agustus 2012
Oleh Degina Juvita

Para seniman menumpahkan segala ekspresi dan inspirasi melalui karya patung. Bentuknya yang padat, diam, beku-- dapat dengan mudah dibedakan dari bentuk-bentuk trimatra lain, di sekitarnya yang punya fungsi.

Di lihat dari membiaknya seni patung di Indonesia melalui beberapa era perkembangan. Era pertama, seni patung mengabdi pada rakyat. Terlihat dari gaya realisme sosial dan penempatan patung di ruang publik. Era kedua, momen munculnya pematung-pematung abstrak (yang dianggap kebarat-baratan) di Bandung. Era ketiga, ditandai oleh pameran patung kontemporer 1973. Pameran ini mendudukan bersama aliran modern dan tradisional. Lalu era keempat, ditandai pameran Bienniale Seni Rupa Jakarta IX 1993 yang dikuratori Jim Supangkat, dan mengangkat isu Postmodernisme.

Dalam sebuah pameran bertajuk “Simpangan”, para pematung generasi 1990-2000 memperlihatkan gejala patung baru pada karya mereka. Sebanyak 14 pematung, menuangkan kerja keras mereka ke dalam bentuk-bentuk trimatra yang berbeda. Sebagian dari mereka mengembangkan gagasan, mengaji media dan teknik jauh lebih mendalam dibanding yang lain.

“Time Line seni patung modern Indonesia itu untuk memberi gambaran sebuah perkembangan. Bagaimana asal muasalnya seni patung modern tersebut tumbuh. Dari gambaran tersebut, kita tahu di mana akarnya, dan apa saja aspek yang mempengaruhinya hingga terjadi perubahan waktu ke waktu. Istilah ‘baru’ itu sendiri bersifat relatif, ”jelas Asikin Hasan, kurator pameran Simpangan.

“Kecenderungan baru pada karya 14 perupa yang dipamerkan ini, saya tandai mulai era 1990-an dan 2000-an. Pada rentang itu, saya melihat banyak perubahan berarti. Misalnya, pematung Anusapati di era 1990-an sekembalinya dari studi di Amerika, mengenalkan karya yang justru tidak mengikuti kecenderungan arus utama (mainstream). Ia mengacu justru pada barang-barang pakai tradisional yang telah ditinggalkan-- karena dominasi barang-barang dan kebudayaan modern, ”imbuh mantan wartawan Tempo di Bandung ini.

Anusapati menampilkan karya berbentuk anak tangga berbahan kayu jati. Ia mempunyai gagasan utama yang menunjukkan kedekatan hubungan manusia dengan alam. Menurutnya, patung adalah representasi simbolik lewat bentuk dan bahan. Seperti yang terlihat dalam karyanya, walaupun berbentuk menyerupai anak tangga, namun karya ini juga memperlihatkan bentukan yang menyerupai daun pintu beserta pegangannya, yang kemudian digubah menjadi susunan anak tangga.

Lain lagi dengan Hardiman Radjab. Seniman yang dikenal akrab dengan media koper, kini menampilkan karya media campuran berjudul “Radio Gaga”. Apa yang ditampilkan Hardiman, diakuinya sebagai karya trimata saja. Kategori jenis karya pun terkadang disebutnya sebagai media campuran, tapi juga bisa disebut sebagai found object dan ready made. “Saya sebenarnya pembosan. Tapi berkali-kali saya mencoba meninggalkan objek koper, saya selalu kembali ke koper. Koper masih punya pesona bagi saya. Jadi, kapan seniman akan beralih ke medium lain, kalau pesona medium itu sudah hilang, ”tulisnya dalam pengantar pameran.

Yuli Prayitno punya pandangan berbeda terhadap seni patung. Pemahamannya akan patung sangat longgar, cukup memiliki volume dan bentuk. Ia tidak peduli ukuran besar atau kecil, bermaterial apa, dan posisi peletakan, apakah ditaruh atau digantung? Yuli lebih senang menyebut karya-karyanya sebagai objek. Karya yang ditampilkannya berupa kain hitam besar yang dibentuk sedemikian rupa seperti bentuk hati yang bervolume. Kemudian di permukaan depannya tampak karet silikon bermotif bunga-bunga, dan membentuk kursi. Karya ini diberi judul “Di Dalam Di Antara Hitam”.

Karya-karya dengan berbagai gagasan, bentuk, dan media lainnya juga ditampilkan oleh Abdi Setiawan, Aditya Novali, Didi Kasi, Erwin Utoyo, Komroden Haro, Handiwirman Saputra, Ichwan Noor, Nus Salomo, Redy Rahadian, Septian Harriyoga, dan Rudi Mantofani. Pameran berlangsung di Galeri Salihara, Jakarta, hingga 17 Agustus mendatang.

Pameran ini diharapkan dapat memperluas pemahaman kita tentang perkembangan seni patung masa kini. Dan, tak lagi terjebak melihat semua gejala visual hanya sebagai satu-satunya gejala seni rupa kontemporer.