http://dmcd6hvaqrxz0.cloudfront.net/...8412b050e855.jpg

Langgam Seni Grafis
Senin, 23 Juli 2012
Oleh Degina Juvita

Seni grafis dikenal sebagai cabang seni rupa yang proses pembuatannya menggunakan teknik cetak. Beberapa teknik cetak diantaranya cetak tinggi, cetak dalam, cetak datar dan cetak saring. Tiap teknik cetak yang dibuat seniman menghasilkan karya seni grafis yang orisinil, bukan merupakan sebuah salinan.

Konon, teknik cukil kayu diatas kertas dikembangkan sekitar 1400 silam di Eropa, dan beberapa waktu kemudian di Jepang. Seniman membuat sketsa terlebih dulu pada bidang kayu atau diatas kertas yang lalu dipindahkan ke papan kayu. Ada pula Engraving, yang memakai alat dari logam yang diperkeras disebut dengan burin untuk mengukir desain ke permukaan logam, tradisionalnya menggunakan plat tembaga. Alat ukir itu memiliki beragam bentuk dan ukuran, menghasilkan jenis garis yang berbeda-beda.

Drypoint merupakan variasi dari engraving. Teknik ini disebut goresan langsung menggunakan alat runcing. Goresan drypoint akan meninggalkan kesan kasar pada tepi garis. Kesan ini memberi ciri kualitas garis yang lunak dan kadang terkesan kabur. Drypoint hanya berguna untuk jumlah edisi yang sangat kecil.

Etsa merupakan teknik cetak yang menggunakan media cetak berupa lempengan tembaga. Untuk pembuatan klise acuan dilakukan dengan penggunaan larutan asam nitrat yang bersifat korosit terhadap tembaga. Jika dibanding dengan engraving, etsa memiliki kelebihan. Tidak seperti engraving yang memerlukan keterampilan khusus pertukangan logam, etsa relatif mudah dipelajari oleh seniman yang terbiasa menggambar. Hasil cetakan etsa umumnya bersifat linear dan seringkali memiliki kontur yang halus.

Selain teknik-tenik tersebut, masih terdapat beberapa teknik lain yang dapat digunakan untuk mencapai hasil yang diinginkan seniman. Seperti yang terlihat dalam pameran bertajuk “Tak Kenal Maka Tak Sayang”. Sebuah pameran tunggal pertama yang diselenggarakan oleh komunitas “Refreshink Printmaking”. Berbagai karya seni grafis dengan teknik berbeda disuguhkan di The Japan Foundation, Jakarta.

Refreshink Printmaking adalah komunitas seni yang terdiri dari seniman grafis yang konsentrasi pada bidang seni. Prio Priambodo, menampilkan karya berjudul “Maaf Aku Harus Pergi”, menggunakan teknik silk screen, hardboard cut. Kemudian, Agung T Wijaya, menampilkan karya hasil teknik cukil berjudul “Sudut Kamar IX”. Selain itu, karya “Karma Foolish” ditampilkan Putri Ayu Lestari menggunakan teknik Dry Point. Uniknya, karya Ayu tidak hanya menampilkan satu hasil cetak. Ia juga membuat buku yang mengisahkan seorang perempuan yang terkena karma.

Banyak karya lain dari komunitas Refreshink Printmaking yang dipamerkan. “Semoga dengan karya seni ini, seni grafis selalu hadir di tengah-tengah kita. Kami selalu berupaya mencari dan terus belajar mengungkapkan gagasan kami, mengenai pemikiran dan kehidupan yang membawa kebaikan untuk kami dan sesama, ”tulis Rotua Magdalena Pardede dalam pengantar pameran.